Tata Tertib

ABSTRAKSI

SISTEM KREDIT POIN

 

Sistem kredit poin merupakan inovasi instrumen pendidikan yang bertujuan mendorong peserta didik memiliki rasa tanggung jawab, mandiri, konsekwen terhadap nilai-nilai dan kaidah yang berlaku dalam lingkungannya. Hal ini, sejalan dengan paradigma baru pendidikan nasional “Menciptakan Manusia Cerdas secara Intelektual, Emosional maupun secara Spritual”

Asumsi dasar sistem kredit poin ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap peserta didik pada dasarnya adalah orang-orang yang baik (baca : fithrah). Proses interaksi dengan lingkungannyalah yang kemudian memberi pengaruh positif maupun negatif. Itulah sebabnya sehingga pelaksanaan sistem krerdit ini menggunakan istilah debet-kredit. Dalam arti bahwa setiap siswa dibekali kredit sebanyak 100 poin (baca : Kebaikan), dan tiap bentuk pelanggaran maupun prestasi akan berkonsekwensi pada penambahan maupun pengurangan poin, besarnya debet kredit tergantung pada jenis pelanggaran dan prestasinya.

Manajemen operasional sistem kredit ini melibatkan unsur, guru, wali kelas, BK, kesiswaan, serta pimpinan Institusi, dengan tetap mempertimbangkan saran-saran orang tua peserta didik-maupun pihak stake holders lainnya.

Pencatatannya menganut asas berkesinambungan. Maksudnya bahwa selama peserta didik masih terdaftar sebagai siswa di SMA Negeri 2 Makassar. Maka selama itu pula setiap siswa memiliki catatan debet-kredit. Tidak ada istilah pemutihan, karena jika kredit poin telah habis, maka peserta didik yang bersangkutan secara otomatis akan kehilangan haknya melanjutkan studi di SMAN 2 Makassar.

Demikian pula sebaliknya, peserta didik yang berprestasi akan mendapatkan kredit poin, dan hal ini akan menjadi indikator penentuan siswa berprestas di SMA Negeri 2 Makassar.

TATA TERTIB

SMA NEGERI 2MAKASSAR

PENDAHULUAN

  1. Tata Tertib dan Tata Krama sekolah ini dimaksudkan sebagai rambu-rambu bagi siswa dalam bersikap, bertindak dan melaksanakan kegiatan sehari-hari di sekolah dalam rangka menciptakan iklim dan kultur sekolah yang menunjang kegiatan pembelajaran yang efektif.
  2. Tata Tertib dan Tata Krama ini disusun berdasarkan nilai-nilai dan norma yang dianut oleh Sekolah, masyarakat, serta bangsa Indonesia secara keseluruhan. Sebagaimana yang tersirat dan tersurat dalam Pandangan Hidup Bangsa dan Konstitusi Negara Undang Undang Dasar 1945.
  3. Sasaran yang ingin dicapai adalah :
  1. Terciptanya masyarakat belajar di sekolah
  2. Meningkatnya kualitas proses belajar mengajar yang dapat bermuara pada peningkatan mutu pendidikan nasional.
  3. Menjadikan Sekolah sebagai wadah untuk membangun dan mengembangkan watak dan kepribadian bangsa (Nation and character building),  
  4. Menjadikan Sekolah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari upaya mewujudkan Hakekat Pembangunan Nasional yakni, Menciptakan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan manusia Indonesia seluruhnya.
  1. Untuk mencapai sasaran sebagaimana dimaksud pada poin 3 tersebut di atas maka diperlukan langkah-langkah operasional yang tertib dan terarah dalam bentuk rumusan Tata Tertib dan Tata Krama Sekolah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem persekolahan secara keseluruhan yang berlaku dan dihayati oleh setiap warga sekolah.
  2. Bagi para siswa, Tata Tertib dan tata Krama ini bertujuan mengatur seluruh aspek kehidupan di sekolah serta bersifat mengikat dan wajib dipatuhi, sehingga  pelanggaran terhadap  setiap aturan dalam Tata Tertib dan Tata Krama ini bermuara pada sanksi.

Karena itu, Setiap Siswa SMA Negeri 2 Makassar berkewajiban mematuhi ketentuan-ketentuan berikut :

 

BAB I

KEHADIRAN DI SEKOLAH

Pasal 1

 

  1. Selambat-lambatnya 5 (lima) menit sebelum pelajaran dimulai, siswa sudah berada dalam lingkungan sekolah.
  2. Siswa yang terlambat 0 – 5 menit setelah berdoa, diizinkan masuk setelah melapor ke Guru Bimbingan Konseling (BK) yang dibuktikan dengan form Surat Izin Masuk.
  3. Siswa yang terlambar 5 – 10 menit, diizinkan masuk kelas pada jam mata pelajaran berikutnya setelah melaksanakan tugas/sanksi yang diberikan oleh Guru BK dan/atau Pembina Kesiswaan.

 

BAB II

KEGIATAN INTRAKURIKULER

Pasal 2

 

  1. Siswa memasuki ruang kelas dengan tertib dan teratur
  2. Sebelum pelajaran dimulai, siswa harus sudah siap untuk menerima pelajaran.
  3. Pada permulaan jam pelajaran I (pertama) dan setelah jam pelajaran berakhir, siswa membaca doa
  4. Pada Permulaan pelajaran dan setelah pelajaran berakhir, siswa memberi salam penghormatan kepada guru dengan tertib.

Pasal 3

 

  1. Siswa tidak diperkenankan meninggalkan ruang kelas selama pelajaran berlangsung, kecuali ada keperluan yang sangat mendesak, dan mendapat izin dari guru mata pelajaran yang bersangkutan.
  2. Pada waktu pergantian mata pelajaran siswa tidak diperkenankan meniggalkan ruang kelas, dan harus tetap berada di dalam kelas menunggu guru mata pelajaran berikutnya.
  3. Jika dalam 5 (lima) menit guru belum tiba di kelas, maka Ketua Kelas segera melaporkan kepada Piket atau kepada guru BK atau kepada Kepala Sekolah.
  4. Selama jam sekolah berlangsung, siswa tidak diperkenankan ke luar dari pekarangan sekolah kecuali mendapat izin dari Kepala Sekolah atau Guru BK.

 

Pasal 4

 

  1. Pada waktu jam istirahat siswa wajib berada di luar kelas dan hendaknya menggunakan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya. Dan tetap berada dalam lingkungan sekolah.
  2. Jika guru berhalangan hadir, siswa wajib tetap berada di dalam kelas dan belajar sendiri, dibimbing oleh BK.
  3. Selama pelajaran berlangsung siswa tidak diperkenakan makan dan minum di dalam  kelas.
  4. Siswa tidak dibenarkan melakukan perayaan Ulang Tahun di sekolah yang dapat mengganggu ketertiban dan kebersihan sekolah.
  5. Selambat-lambatnya 1 (satu) jam setelah pelajaran berakhir, siswa tidak diperkenankan berada dalam lingkungan sekolah, kecuali ada kegiatan yang diatur oleh sekolah.

 

BAB III

ABSENSI

Pasal 5

 

  1. Apabila siswa tidak hadir di sekolah, maka pada hari pertama Ia masuk kembali ke sekolah harus membawa surat dari orang tua/wali sebagai bukti yang sah atas alasan ketidakhadirannya. Dan harus diserahkan pada Kepala Sekolah/Wali Kelas dan atau guru BK.
  2. Apabila ketidakhadiran siswa tersebut karena sakit lebih dari 2 (dua) hari, maka orang tua/wali harus memberitahukan pihak sekolah dengan menyertakan Surat Keterangan dari dokter.

 

Pasal 6

  1. Apabila karena sesuatu dan lain hal siswa meninggalkan jam pelajaran tertentu, maka Ia harus mendapat persetujuan Kepala Sekolah melalui Guru BK.
  2. Izin meninggalkan mata pelajaran untuk sesuatu urusan di luar sekolah yang bersifat pribadi hanya dapat diberikan bila sebelumnya ada surat permohonan dari orang tua/wali dan selanjutnya guru BK akan membuat Surat Izin Keluar.
  3. Pemberian izin tanpa surat hanya diberikan bila dalam keadaan terpaksa, misalnya sakit, kematian, kebakaran dan kecelakaan serta peristiwa penting lainnya.
  4.  

Pasal 7

  1. Apabila karena seuatu hal tertentu sehingga siswa tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah beberapa hari, maka harus menunjukkan surat permohonan dari orang tua/wali.
  2. Siswa yang tidak hadir 2 (dua) hari berturut-turut tanpa keterangan, maka orang tua/wali siswa ybs. akan diberi surat panggilan ke sekolah.
  3. Apabila ternyata orang tua/wali siswa tersebut tidak memenuhi surat panggilan ke sekolah tanpa keterangan, maka siswa tersebut dianggap sengaja tidak hadir di sekolah, dan karena itu akan diproses oleh Guru BK dan atau Kepala Sekolah.

 

BAB IV

PAKAIAN SERAGAM / PERHIASAN

Pasal 8

  1. Siswa harus memakai pakaian seragam sekolah putih abu-abu pada setiap hari Senin-Selasa-Rabu dan Kamis serta pakaian Pramuka pada setiap hari Jum’at dan Sabtu.
  2. Untuk siswa laki-laki, kemeja putih lengan pendek, tidak ketat, celana panjang warna abu-abu dengan ukuran yang standar, sepatu warna hitam, kaos kaki warna putih, serta ikat pinggang warna hitam. Untuk seragam Pramuka kaos kaki warna hitam
  3. Untuk siswa perempuan, kemeja putih lengan pendek/panjang (jilbab) tidak ketat, rok abu-abu panjang sampai mata mata kaki, sepatu warna hitam, kaos kaki warna putih tidak bermotif dan kaos hitam untuk seragam pramuka.
  4. Selanjutnya ketentuan mengenai model pakaian mengikuti ketentuan yang telah ditentukan oleh sekolah. 
  5. Semua siswa harus mengenakan atribut OSIS dan tanda lokasi sekolah, papan nama dijahit.
  6. Dalam memakai pakaian seragam, siswa diharuskan memasukkan kaki bajunya ke dalam celana/rok dilengkapi dengan ikat pinggang. 
  7. Siswa dilarang memakai perhiasan yang berlebihan dan baju yang tembus pandang, serta baju dalam warna putih polos.

 

BAB V

RAMBUT, KUKU TATTO DAN MAKE UP

Pasal 9

  1. Siswa tidak diperkenankan :
    1. Berkuku panjang
    2. Mengecat rambut dan kuku
    3. Bertatto
  2. Bagi siswa laki-laki :
    1. Tidak berambut panjang (Cukur Perwira No. 2)
    2. Rambut tidak berkuncir, berjambul dan semacamnya.
    3. Tidak memakai anting, kalung dan gelang
    4. Tidak memiliki lubang pada cuping telinga
  3. Bagi siswa perempuan :
    1. Tidak memakai make up atau sejenisnya kecuali hanya bedak tipis.
    2. Tidak memiliki lubang pada cuping telinga lebih dari satu lubang..
    3.  

BAB VI

ROKOK, JUDI, MINUMAN KERAS, NARKOTIKA,

BACAAN, PERKELAHIAN DAN LAIN-LAIN

Pasal 10

  1. Siswa dilarang membawa dan merokok di dalam lingkungan sekolah.
  2. Siswa tidak dibenarkan melakukan perjudian dalam segala bentuknya di dalam lingkungan sekolah.
  3. Siswa dilarang membawa, mengkonsumsi dan mengedarkan NARKOBA, minuman keras, dan sejenisnya di dalam lingkungan sekolah.  
  4. Siswa dilarang membawa, memiliki, mengedarkan buku bacaan gambar dan atau media lainnya yang bertentangan dengan nilai agama, nilai susila dan nilai budaya nasional serta Moral Pancasila.
  5. Siswa dilarang membawa senjata api, senjata tajam, atau benda apapun yang tidak ada hubungannya dengan pendidikan yang dapat membahayakan dan mengancam keselamatan.

Pasal 11

  1. Siswa dilarang berkelahi baik secara perseorangan, kelompok maupun bersama-sama secara massal, baik dengan teman di sekolah maupun dengan pelajar atau pihak lain di luar lingkungan sekolah. 
  2. Siswa tidak dibenarkan terlibat secara langsung atau tidak langsung pada aksi keributan berupa, menyulut perkelahian atau keributan dan atau apapun bentuknya yang dapat merugikan diri sendiri dan/atau orang lain, sekolah dan masyarakat.
  3.  

Pasal 12

  1. Siswa tidak dibenarkan mengaktifkan HP pada saat jam pelajaran berlangsung.
  2. Siswa dilarang menjual sticker, kupon bazar dan semacamnya di dalam lingkungan sekolah.

 

BAB VII

KEAMANAN, KEBERHASILAN, KETERTIBAN, KENYAMANAN,

KEINDAHAN, KEKELUARGAAN DAN KERAPIAN (7K)

Pasal 13

 

  1. Siswa berperilaku sopan santun dan menghormati Ibu dan Bapak Guru, baik di sekolah maupun diluar sekolah.
  2. Setiap siswa bertanggungjawab memelihara dan menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan dan kerapian atas kelasnya masing-masing berdasarkan prinsip kekeluargaan.

 

Pasal 14

  1. Kelompok kebersihan setiap hari wajib membersihan kelas sebelum pelajaran dimulai.
  2. Setiap siswa berkewajiban memelihara keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan kerapian serta berpartisipasi dalam pemeliharaan bangunan serta peralatan sekolah.
  3. Setiap siswa berkewajiban menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan SMA Negeri 2 Makassar dari perilaku seperti menulis dan mencoret-coret yang tidak pada tempatnya (dinding, meja, kursi) serta tidak membuang sampah di  sembarang tempat.

BAB VIII

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

Pasal 15

Untuk meningkatkan mutu pembinaan siswa, dilaksanakan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler secara berimbang/serasi dan profesional agar terwujud siswa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, terampil, dan kreatif sertra memiliki sikap, perilaku, pola pikir dan kepribadian tinggi.

Pasal 16

 

Setiap siswa sesuai dengan minat masing-masing wajib mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah yaitu :

  1. Keagamaan
  2. Keolahragaan
  3. Kepramukaan
  4. Kesenian
  5. Palang Merah Indonesia (PMR)
  6. Kelompok Remaja (KIR)
  7. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
  8. Kelompok Pencinta Alam/Peduli Lingukungan
  9. Kepustakaan, dll

 

BAB IX

UPACARA BENDERA DAN PERINGATAN HARI BESAR

NASIONAL MAUPUN KEAGAMAAN

Pasal 17

  1. Setiap siswa wajib mengikuti Upacara Bendera di sekolah yang diselenggarakan setiap hari Senin, tanggal 17, ataupun pada Hari-hari Besar Nasional.
  2. Setiap siswa wajib menjaga agar pelaksanaan upacara berlangsung tertib, khidmad dan lancar.

 

BAB X

SANKSI

Pasal 18

 

Siswa yang melanggar ketentuan Tata Tertib di atas akan diberi tindakan dengan pedoman pada ketentuan berikut :

  1. Tahap Penanganan Kasus

Secara umum, proses penanganan kasus dilakukan secara bertahap :

Tahap 1   :  Pemberitahun

Tahap 2   :  Peneguran secara lisan dan tulisan

Tahap 3   :  Sanksi (Hukum Penyitaan / Skorsing / dikeluarkan dari sekolah).

  1. Mekanisme Penanganan Kasus :
  1. Penanganan kasus dilakukan secara bertingkat dari Guru Mata Pelajaran, Wali Kelas, Guru BK, Pimpinan Sekolah dengan membuat laporan kejadian kasus.
  2. Apabila sudah dianggap perlu, Wali Kelas, Guru BK, Kepala Sekolah akan membuat Surat Pemberitahuan Kasus kepada ornag tua/wali dan/atau dipanggil ke sekolah untuk dilakukan proses penanganan kasus.
  3. Setiap bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh seorang siswa akan dicatatkan dalam Buku Kasus.
  4. Bentuk sanksi yang akan diberikan sesuai dengan tingkat kualitas kasus.

 

Pasal 19

Bentuk-bentuk sanksi :

  1. Siswa yang tidak mengikuti pelajaran tertentu sampai 3 (Tiga) kali berturut-turut, diberikan surat teguran.
  2. Bila siswa tidak mengikuti suatu mata pelajaran lebih dari 75 % dari jam efektif karena sesuatu hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka yang bersangkutan tidak akan mendapat nilai pada semester tersebut.
  3. Siswa yang tidak berpaiakan seragam dengan rapi (Seperti kemeja tidak dimasukkan ke dalam celana/rok, sepatu bukan warna hitam) diberi sanksi yang akan diatur kemudian.
  4. Siswa laki-laki yang melanggara ketentuan rambut, akan disesuaikan dengan aturan Tata Tertib sekolah.
  5. Apabila seorang siswa merusak alat perabot baik sengaja maupun tidak sengaha, diharuskan mengganti alat/perabot tersebut.
  6. Dalam hal ini sekolah akan membuat Surat Pemberitahuan kepada orang tua/wali

Pasal 20

 

Pemberitahuan sementara (skorsing) dapat dikenakan terhadap siswa yang melakukan pelanggaran sebagai berikut :

  1. Lebih dari 2 (dua) kali dalam satu bulan melakukan pelanggaran ketentuan Pakaian Seragam Sekolah.
  2. Melakukan pemukulam, pengeroyokan, pemasaran, dan perkelahran dalam lingkungan sekolah dan atau di luar  lingkungan sekolah yang dapat mencemarkan nama baik sekolah.
  3. Kedapatan membawa, menyimpan, mengedarkan buku bacaan dan atau media lainya yang bertentangan dengan susila dan nilai budaya nasional serta moral Pancasila.
  4. Lama skorsing akan ditetapkan oleh Kepala Sekolah menurut dasar pertimbangan tingkat kualitas kasus.

Pasal 21

 

Siswa dapat dikeluarkan dari sekolah apabila :

  1. Melakukan pelanggaran Tata Tertib Sekolah di luar batas kewajaran sebagai seorang siswa.
  2. Kedapatan yang kedua kalinya terlibat langsung atau tidak langsung dalam aksi perkelahian, penganiayaan, dan atau pengeroyokan.
  3. Kedapatan membawa senjata tajam, sejanta api genggam atau sejenisnya di lingkungan SMA Negeri 2 Makassar.
  4. Ikut terlibat atau menggerakkan/menghasut orang lain dalam perkelahian massal yang membawa nama sekolah.
  5. Melawan guru secara fisik dan atau menghina guru
  6. Karena melakukan perbuatan PIDANA ia dinyatakan bersalah dan dihukum oleh pengadlan disertai hukuman tambahan berdasarkan Pasal 35 Ayat 1 Sub 6 KUHP.

 

BAB XI

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 22

 

Semua peraturan tercantum dalam Tata Tertib Siswa SMA Negeri 2 Makassar tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan atau diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan undang-undang.

 

BAB XII

PENUTUP

Pasal 23

 

  1. Segala sesuatu yang belum di atur dalam Ketentuan  Tata tertib ini akan diatur dan ditentukan kemudian.
  2. Dengan dikeluarkannya Tata Tertib ini maka Tata Tertib yang terdahulu dinyatakan tidak berlaku lagi.

 

Kepala SMA Negeri 2 Makasar

Dra. hj. Masita, M.Si